Laman

Kamis, 10 Desember 2015

Perbedaan Masyarakat Kota Dan Desa Dari Pola Pikirnya

Perbedaan Masyarakat Kota Dan Desa - Seiring berkembangnya waktu, kebiasaan dan pola pikir suatu masyarakat di suatu negara pasti juga ikut berkembang. Di Indonesia, tahap perkembangan yang dihadapi setiap masyarakat daerahnya berbagai macam. Ada yang cepat, ada pula yang lambat. Walau demikian, ada banyak sisi positif di masing-masing sisi daerah yang mengalami perkembangan baik itu cepat atau lambat. Ada banyak hal yang kentara tentang perbedaan antara masyarakat pedesaan dan perkotaan.

Berikut penjelasan perbedaan masyarakat kota dan desa :

1. Rasa sosial
Perbedaan masyarakat kota dan desa yang pertama kali bisa kita lihat yaitu dari rasa sosialnya. Bisa dicontohkan apabila di lingkungan kota, semua orang akan terlalu repot bekerja. Mereka hanya memiliki waktu di sore atau malam hari, sehingga terkadang beberapa diantara mereka memanfaatkan sisa waktu mereka hanya untuk istirahat, atau untuk bersama keluarga. Kegiatan sosial seperti siskamling tak jarang malah dikerjakan oleh seseorang yang dibayar contohnya hansip.

Apabila dilihat di masyarakat pedesaan, keberadaan hansip pasti kurang diperlukan terlebih karena warga desa sendiri yang menjaga kampungnya. Contoh lain yaitu dalam budaya gotong royong, masyarakat desa akan lebih aktif. Contohnya ada seseorang yang sedang membangun rumah. Ia bisa meminta tetangganya untuk membantu membangun rumahnya dengan tenaga yang dimiliki tetangga. Sedangkan masyarakat perkotaan akan memanggil tukang bangunan yang dibayar untuk menyelesaikan pembangunan rumah atau gedung.

2. Cara berpikir
Perbedaan masyarakat kota dan desa yang kedua yaitu dari cara berpikirnya. Pada masyarakat kota, cara berpikir yang dimiliki sangat berbentuk materialis dan egosentris. Sebenarnya kedua sifat itu tidak seutuhnya buruk, karena bagi masyarakat kota memiliki hidup yang cukup untuk diri sendiri dan keluarga yaitu lebih baik daripada mengurusi hidup orang lain. Cara berpikir seperti ini membuat masyarakat kota cenderung kompetitif. Tidak jarang dari mereka yang secara tidak sengaja membangun rumah dengan tembok pagar yang tinggi dengan alasan takut dimasuki maling. Ini yaitu salah satu indikator bahwa si pemilik rumah tidak mempercayai lingkungan sekitar ataupun penjagaan dari masyarakat setempat. Masyarakat kota dinilai apatis terhadap permasalahan tetangganya. Berbeda dengan desa yang masyarakatnya percaya satu sama lain dan memiliki tenggang rasa tinggi. Hanya saja, masyarakat desa cenderung tidak berpikir maju.

Dua hal yang diuraikan diatas bisa perbedaan utama masyarakat kota dan desa, namun tidak berarti menjudge atas masyarakat desa maupun masyarakat kota. Terkadang perubahan yang menyebabkan masyarakat kota menjadi semakin maju daripada masyarakat desa bukan berarti membuat masyarakat kota lebih baik. Juga bukan bermakna budaya sosial yang baik di masyarakat desa adalah sepenuhnya baik. Bukankah masyarakat kota dalam peradabannya juga pernah menjadi masyarakat desa?

Sekian informasi yang bisa disampaikan mengenai perbedaan masyarakat kota dan desa dari pola pikirnya. Semoga bisa bermanfaat untuk Anda semua. Terima kasih.

Share this: